Tri Adhianto dan Zulhas Tegaskan PSEL Jadi Solusi Darurat Sampah
KOTA BEKASI - Wali Kota Bekasi Tri Adhianto menegaskan pembangunan fasilitas Pengolahan Sampah menjadi Energi Listrik (PSEL) resmi memasuki tahap awal atau titik nol. Ia menyebut momentum ini sebagai kelanjutan dari proses panjang yang telah dimulai sejak tahun lalu.
“Ya, hari ini kan momentum terus berjalan, tahapan terus dilalui. Dan hari ini momentum titik nolnya, bahwa ini mulai terjadi pembangunan,” ujar Tri, Rabu (26/8/2026).
Tri optimistis proyek strategis tersebut dapat beroperasi dalam 18 bulan ke depan. Kapasitas PSEL ditargetkan mampu menampung hingga 1.500 ton sampah per hari, meski kesepakatan awal berada di angka 1.400 ton. Dari total 1.800 ton sampah harian Kota Bekasi, masih terdapat persoalan 300 ton yang harus diselesaikan melalui pemilahan.
“Pemilahan tetap harus diutamakan. Tadi Pak Menteri juga menyampaikan bahwa ini bukan selesai, tapi bagaimana gerakan pemilahan dan dukungan warga menjadi bagian penting,” jelasnya.
Tri mengungkapkan saat ini terdapat 643 bank sampah aktif di Kota Bekasi, namun rata-rata baru mampu mengelola sekitar 10 ton per hari. Kondisi ini, menurutnya, menuntut kekompakan, gotong royong, dan kerja sama seluruh masyarakat agar pengelolaan sampah berjalan optimal.
Setelah groundbreaking, pemerintah daerah akan memastikan pelaksanaan proyek sesuai tahapan. Tri menekankan pentingnya konsolidasi internal, mulai dari penyediaan armada pengangkut, memastikan ketersediaan sampah, hingga operasional yang menjadi tanggung jawab pemerintah daerah.
"Yang lebih utama adalah bagaimana setelah ini kita membangun pabrik pengolahan residu. Karena nanti yang dibakar masih ada sekitar 30 persen, dan residu itu akan diolah menjadi batako, batu koral, semen, pasir, kerikil, dan lain sebagainya,” paparnya.
Terkait pasokan listrik, Tri menyebut hasil kajian menunjukkan kebutuhan energi di Bekasi masih tinggi. PLN, kata dia, akan membangun jaringan khusus untuk menyalurkan listrik dari PSEL agar hasilnya dapat kembali dimanfaatkan masyarakat.
“Listrik yang dihasilkan dari sampah ini nanti akan dikembalikan lagi kepada warga masyarakat. Itu urusannya kerja sama dengan PLN, sementara tugas pemerintah daerah adalah memastikan sampah sampai di titik ini,” tegasnya.
Sementara, Menteri Koordinator Bidang Perekonomian, Zulkifli Hasan, menegaskan bahwa pembangunan fasilitas PSEL di Kota Bekasi merupakan bagian dari upaya darurat pemerintah dalam mengatasi persoalan sampah di berbagai daerah.
"Baru saja kita launching untuk PSEL yang ada di Kota Bekasi. Pertama dulu di Bali, Jawa Barat di Bandung, terus di sini. Berarti sudah tiga, dan insya Allah bulan Oktober di Sumatera Selatan akan diresmikan,” ujar Zulhas.
Ia menyebut target penyelesaian proyek PSEL nasional diharapkan rampung pada 2027–2028. Namun, Zulhas menekankan bahwa pembangunan ini baru menjawab sebagian kecil persoalan.
“Bekasi darurat, Tangerang darurat, Bali juga darurat. Tumpukannya sudah sampai 60 meter tingginya. Mudah-mudahan dalam dua tahun bisa kita selesaikan,” katanya.
Menurut Zulhas, PSEL hanya mampu mengatasi sekitar 22 persen timbunan sampah. Untuk itu, pemerintah juga menggandeng TNI Angkatan Darat dalam mengelola gunungan sampah lama melalui teknologi pirolisis yang dapat mengubah sampah menjadi minyak.
“Kalau yang baru 1.500 ton, yang lama 1.000 ton, maka bertahap gunung-gunung sampah itu bisa kita habisi,” jelasnya.
Selain teknologi, Zulhas menekankan pentingnya peran masyarakat dalam pemilahan sampah. Ia mencontohkan apel siaga yang digelar di Bandung dengan 4.000 peserta, serta di Bekasi dengan 2.000–3.000 peserta dari berbagai unsur masyarakat.
“Itu bersama-sama, seluruh kita. Dari masyarakat, RT, RW, lurah, camat, LSM, NGO, anak-anak sekolah, semua. Pemilahan sederhana, tapi itu kunci,” tegasnya.
Dengan pemilahan yang konsisten, Zulhas optimistis 70–75 persen persoalan sampah dapat diselesaikan dalam dua tahun ke depan.
“Kalau dipilah, organik bisa langsung diolah dengan teknologi sederhana. Maka 70 persen sampah kita bisa selesai sampai 2029. Pertama dari mal, pasar, sekolah, kantor-kantor, bisa kita selesaikan di situ,” ujarnya.
Ia juga menekankan pentingnya dukungan media dalam mengawal program ini.
“Masalah sampah ini sudah 81 tahun, bukan selesai, malah tambah banyak. Jadi kalau kita bareng-bareng, dalam dua tahun 70 persen mudah-mudahan bisa kita selesaikan,” pungkas Zulhas. (Yud).