Anggota Komisi III DPRD Jawa Barat, Ahmad Faisyal Hermawan. PALAPA POS/Yudha.

UMKM Jabar Terhimpit Fluktuasi Kurs, Ahmad Faisyal Dorong Strategi Adaptif

BANDUNG – Lonjakan nilai tukar dolar Amerika Serikat (AS) kembali memicu kekhawatiran bagi pelaku Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM) di Jawa Barat. Sektor kuliner, fesyen, elektronik, hingga industri rumahan yang bergantung pada bahan baku impor mulai merasakan tekanan akibat meningkatnya biaya produksi.

Anggota Komisi III DPRD Jawa Barat, Ahmad Faisyal Hermawan, menilai kondisi ini menempatkan pelaku usaha kecil pada dilema berat. Di tengah daya beli masyarakat yang belum sepenuhnya pulih, mereka dihadapkan pada pilihan sulit: menaikkan harga produk atau menanggung penipisan margin keuntungan.

“Ketika dolar naik, harga bahan baku otomatis ikut melonjak karena transaksi impor menggunakan mata uang asing. Akibatnya, biaya operasional UMKM meningkat dalam waktu singkat,” ujar Faisyal, Kamis (21/5/2026).

Faisyal menjelaskan, Jawa Barat merupakan salah satu pusat UMKM terbesar di Indonesia. Ribuan pelaku usaha di Kota Bekasi, Bandung, Bogor, hingga Tasikmalaya masih sangat bergantung pada komoditas impor, mulai dari bahan pangan (tepung, cokelat, susu, minyak), kemasan plastik dan printing, mesin produksi, suku cadang elektronik, tekstil, pewarna, hingga bahan kimia industri rumah tangga.

Dampak Fluktuasi Kurs terhadap UMKM

1. Lonjakan harga bahan baku – Usaha makanan dan minuman mengeluhkan kenaikan harga cokelat, gandum, susu, hingga minyak. Sementara pelaku fesyen tertekan oleh mahalnya kain dan aksesori impor.

2. Penyusutan margin keuntungan – Banyak pelaku usaha enggan menaikkan harga jual karena khawatir kehilangan pelanggan, sehingga keuntungan makin tergerus.

3. Potensi penurunan daya beli – Jika harga produk naik, masyarakat cenderung memangkas belanja nonprioritas, memukul industri kreatif, kuliner, dan fesyen loka.

4. Beban cicilan dan alat produksi – Pelaku UMKM dengan pinjaman usaha atau kebutuhan peremajaan alat produksi impor harus menanggung biaya lebih tinggi.

Meski tekanan ekonomi meningkat, politisi PDI Perjuangan ini melihat adanya peluang. Menurutnya, momentum ini bisa menjadi titik balik untuk mengurangi ketergantungan pasar terhadap impor.

“UMKM berbasis produk lokal justru bisa tampil lebih kompetitif dibandingkan barang impor yang harganya makin mahal,” tegas Faisyal.

Ia optimistis produk makanan lokal, kerajinan tangan, hasil pertanian, hingga fesyen berbahan dasar domestik berpeluang mengalami peningkatan permintaan. Faisyal juga mendorong UMKM digital membidik pasar luar negeri guna memanfaatkan penguatan dolar melalui ekspor.

Enam Strategi Taktis UMKM Jabar

1. Kurangi ketergantungan impor.

2. Perkuat bahan baku lokal.

3. Efisiensi proses produksi.

4. Maksimalkan penjualan digital.

5. Perluas pasar ekspor.

6. Jaga stabilitas arus kas.

Selain langkah mandiri dari pelaku usaha, Faisyal menegaskan peran aktif pemerintah daerah sangat krusial dalam menjaga stabilitas sektor UMKM yang menjadi tulang punggung ekonomi Pasundan.

“Pemerintah daerah perlu segera memperkuat akses pembiayaan murah serta memberikan pendampingan bisnis intensif agar UMKM kita tidak terpukul terlalu dalam,” pungkasnya. (ADV).

Previous Post Bupati Humbahas Terima Audiensi RS Colombia Asia Medan