Abdul Manan Jadi Penyejuk di Tengah Riuh Eksternal
KOTA BEKASI – Menjelang Musyawarah Daerah (Musda) VI DPD Partai Golkar Kota Bekasi, dinamika politik internal partai berlambang pohon beringin itu semakin ramai diperbincangkan.
Namun, sorotan publik bukan hanya datang dari kader, melainkan juga dari pihak eksternal yang sejatinya tidak memiliki hak suara dalam Musda, Rabu (30/9/2026).
Sejumlah tokoh di luar struktur resmi Golkar Kota Bekasi belakangan aktif memberi komentar di media, bahkan seolah-olah ikut menentukan arah kepemimpinan baru. Kondisi ini dinilai sebagian kader sebagai bentuk intervensi yang berlebihan.
"Musda adalah forum internal, jadi sebaiknya pihak luar tidak mendikte jalannya proses," salah seorang simpatisan Partai Golkar Kota Bekasi, Ilham.
Ia menegaskan, suara eksternal memang bisa menjadi masukan, tetapi tidak boleh mendominasi ruang publik hingga menimbulkan kesan Golkar tidak mampu mengatur rumah tangganya sendiri.
Di tengah riuhnya komentar eksternal, nama Abdul Manan kembali mencuat. Tokoh senior Golkar Kota Bekasi itu disebut masih memiliki wibawa dan dihormati oleh para kader, meski tidak lagi memegang posisi strategis. Kehadirannya dianggap mampu memberi kesejukan di tengah perdebatan internal.
"Pak Manan tetap kami hormati. Beliau punya rekam jejak panjang di Golkar dan selalu mengingatkan pentingnya soliditas," katanya.
BACA JUGA: Menjelang Musda Golkar Kota Bekasi, Isu Intervensi Mencuat
Sementara, Ketua Pengurus Kecamatan (PK) Golkar Bekasi Timur, Wiwiek Hilwiyah Arief, menilai praktik intervensi politik yang kerap muncul menjelang Musda hanya akan memperburuk citra Partai Golkar di mata publik.
"Musda harusmya menjadi ruang independen bagi kader. Jika ada intervensi, maka legitimasi hasilnya akan dipertanyakan," ujarnya, Kamis (24/9/2025).
Fenomena ini menunjukkan bahwa Musda kali ini bukan hanya menjadi ajang konsolidasi internal, tetapi juga ujian bagi Golkar Kota Bekasi untuk menjaga kemandirian politik di tengah derasnya opini eksternal. (Yud).